img.label_thumb{float:left; padding:5px; border:1px solid #8f8f8f; background:#D2D0D0; margin-right:10px; margin-bottom:15px;height:100px; width:100px} img.label_thumb:hover{background:#f7f6f6} .label_with_thumbs{float:left; width:100%; min-height:110px; margin:0px 10px 2px 0px; adding:0} ul.label_with_thumbs li{padding:8px 0; min-height:105px; margin-bottom:15px} .label_with_thumbs a{font-size:15px;font-weight:bold;} .label_with_thumbs strong{}

Jumat, 31 Mei 2013

MAKALAH IMAN KEPADA ALLAH



KATA PENGANTAR


            Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmad serta karuniaNya sehingga dapat menyelesaikan makalah Pendidikan Agama Islam ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabatnya, juga seluruh pengikutnya di seluruh dunia, sejak awal kebangkitan Islam hingga hari kiamat.
            Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan mahasiswa kepada Allah SWT serta memahami dan mengamalkan agama islam sehingga menjadi seorang muslim yang beriman dan berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,bermasyarakat,dan bernegara. Kami juga berharap kaum muslim khususnya para mahasiswa dapat belajar tentang sifat-sifat Allah SWT dalam al-asmaul husna maupun sifat wajib, jaiz dan mustahil serta dapat mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.
            Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kami sampaikan pada Bapak Muhibbin selaku dosen pembimbing kami,sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu.Tidak lupa kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyk kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.Maka dari itu kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun. Semoga Allah SWT meridhoi usaha dan niat baik kita bersama dalam upaya mewujudkan mahasiswa yang cerdas dan beriman. Amin.



Malang,    Mei 2013

Penulis







BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang
Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan ; amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya  adalah  makna dan hukum keduanya
Iman lebih umum dari pada Islam dari maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiapmuslim adalah mukmin.
Rukun iman yang pertama adalah Iman Kepada Allah SWT. Maka dalam makalah ini yang akan kami sampaikan adalah pengertian Iman kepada Allah dan cara beriman kepada Allah SWT


B. Rumusan Masalah 

1.Pengertian Iman Kepada Allah
2.Beberapa karaker iman kepada Allah
3.Fungsi Iman Kepada Allah SWT
4.Hikmah dan Manfaat Beriman Kepada Allah







BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pengertian Iman

Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, serta amal hati. Artinya pengakuan yang di (ucapkan) dalam hati dan lisan serta bersedia melakukan yang dibenarkannya melalui amal hati. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah   bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim. Sehingga dapat disimpulkan iman merupakan Suatu yang tersembunyi dalam jiwa/ pengakuan dalam lubuk hati.
Sebagaimana kita ketahui dalam agama Islam memiliki 6 Rukun Iman yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepadaqadla dan qadar (ketentuan).

B.      Iman kepada Allah

            Berdasar pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa iman kepada Allah adalah meyakini mempercayai membenarkan dengan hati bahwa Allah itu ada sebagai tuhan yang Maha Esa dengan segala sifat kesempurnaannya, mengucapkan mengikrarkan adanya Allah secara lisan dan bersedia melakukan apa yang telah dibenarkan oleh hati dan diucapkan oleh lisan sebagai keimanan seseorang, dibuktikan dengan perbuatan amal soleh. Mutakalimin iman adalah pembenaran dalam hati,penuturan menurut lisan dan pengamalan oleh anggota badan.
Iman juga sering di interpretasikan dengan istilah tauhid. Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Ibnu Sholeh Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa sesungguh banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi mereka menyembah Malaikat, menyembah para Nabi, menyembah orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.

C. Iman kepada Allah mengandung 4 karakter :

1.      Beriman dengan adanya Allah
Allah telah memberikan fithrah (insting) kepada setiap makhluk untuk beriman kepada Penciptanya. Seperti firman Allah :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (terhadap atas) firman allah yang telah menciptakan manusia menurut; fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rumm :30)
Akal sehat menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya,  harus ada sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai pencipta. Dia-lah Allah Rabb semesta alam. Seperti firman Allah ;
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu;  sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. Ath-Thur :35-36)
Perasaan menunjukkan adanya Allah. Sesungguhnya kita melihat silih bergantinya malam dan siang, rizqi manusia dan hewan, mengatur urusan semua makhluk, memberikan indikasi yang pasti terhadap ada-Nya.
 Allah mempergantikan malam dan siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (QS. An- Nur :44
Allah memperkuat para rasul dan nabi-Nya dengan tanda-tanda dan mukjizat yang dilihat atau didengar manusia. Mukjizat merupakan perkara-perkara yang berada di luar batas kemampuan manusia. Allah memperkuat dan menolong para rasul-Nya dengan mukjizat tersebut. Ini merupakan tanda yang pasti terhadap adanya yang mengutus mereka, Dia-lah Allah. Seperti, Allah membuat api menjadi dingin dan keselamatan terhadap Ibrahim, membelah laut bagi Musa, menghidupkan orang mati bagi Isa, dan membelah bulan bagi Muhammad.
Sudah sekian banyak Allah mengabulkan orang-orang yang berdoa, memberi kepada orang-orang yang meminta, menolong orang-orang yang kesusahan, yang menunjukkan ada, mengetahui, dan berkuasa-Nya Allah.
Firman allah:
Ingatlah,   ketika   kamu   memohon   pertolongan   kepada   Rabbmu,   lalu diperkenankan-Nya   bagimu   :"Sesungguhnya   Aku   akan   mendatangkan bala bantuan  kepadamu  dengan  seribu malaikat  yang  datang  bertutut- turut". (QS. Al-Anfaal :9)
Syara' menunjukkan adanya Allah. Maka, hukum-hukum yang mencakup untuk segala kepentingan makhluk, dan yang diturunkan oleh Allah di dalam kitab-kitab-Nya terhadap para nabi dan rasul-Nya merupakan bukti bahwa hal itu berasal dari Rabb Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Mengetahui terhadap segala kepentingan hamba-Nya

2.      Beriman dan percaya bahwa Allah adalah Rabb satu-satunya, tidak ada sekutu    bagiNya.
Rabb adalah yang memiliki ciptaan, kerajaan, dan perkara. Maka, tiada yang menciptakan kecuali Allah , tiada yang menjadi raja selain Allah, dan semua perkara adalah milik-Nya. Makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah kerajaan-Nya, dan perkara adalah perkara-Nya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Mengasihi apabila diminta kasih sayang-Nya, mengampuni apabila diminta ampunan-Nya, memberi apabila diminta, dan mengabulkan bila dimohon. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur

3.      Beriman kepada uluhiyah Allah
Kita mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah saja illah yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah. Dia-lah Rabb semesta alam, illah alam jagad raya. Kita menyembah-Nya dengan cara yang Dia syari'atkan, kesempurnaan cinta dan kesempurnaan pengagungan. Kita mengetahui dan meyakini bahwa sebagaimana Allah Maha Esa dalam rububiyah-Nya (Rububiyah yaitu mengenal Allah melalui perbuatan-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, demikian pula Dia Maha Esa pada uluhiyah-Nya, tiada ada sekutu bagi-Nya. Maka, kita hanya menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dan kita menjauhi penyembahan kepada selain-Nya.
Uluhiyah artinya mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan hamba atau mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada-Nya
4.      Beriman kepada Asma dan Sifat Allah
Pengertiannya yakni memahami Asma dan sifat Allah, menghapalnya, mengakuinya, menyembah kepada Allah dengannya, dan mengamalkan tuntutannya dan keagungan Allah  mengisi hati semua hamba dengan rasa takut dan pengagungan terhadap-Nya
Mengenal sifat kemuliaan, kemampuan, kekuasaan mengisi hati dengan sifat hina, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Rabb-nya.  Mengenal sifat-sifat kasih sayang, kebaikan, kemurahan, dan pemberi mengisi hati dangan rasa ingin dan berharap pada karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah. Gabungan semua sifat ini mengharuskan bagi sifat mahabbah (cinta), rindu, tenang, tawakkal, dan mendekatkan diri kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya
Kita menetapkan bagi Allah asma` dan sifat yang ditetapkan-Nya untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasulullah bagi-Nya. Kita beriman kepada asma dan sifat-Nya serta makna dan pengaruh yang terdapat asma dan sifat tersebut . Kita beriman bahwa Allah (Maha Pengasih) dan pengertiannya adalah bahwa Dia mempunyai sifat kasih sayang. Dan di antara pengaruh dari nama ini: bahwa Dia memberikan kasih sayang kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan, seperti inilah penjelasan pada nama-nama yang lain. Kita menetapkan hal itu berdasarkan atas sifat dan asma` yang pantas bagi kebesaran Allah  tanpa ada tahrif (mengubah lafazh dan membelokkan makna sebenarnya), ta'thil (pengingkaran seluruh atau sebagian asma` dan sifat Allah), takyif (menanyakan bagaimana Allah), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-nya)
Asma` Allah Yang Maha Indah Asma` Allah mengindikasikan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma’ diambil dari sifat. Maka, ia adalah asma` dan sifat, karena sebab itulah ia menjadi indah. Mengetahui Allah, asma dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling agung dan paling wajib. Di antara asma` Allah adalah Allah: yaitu yang dituhankan, yang disembah, dicintai, diagungkan oleh semua makhluk, tunduk bagi-Nya dan kembali kepada-Nya dalam segala kebutuhan

ASMA’UL HUSNA

Pengertian Asma’ul Husna 

Menurut bahasa, Asma berarti Nama, sedangkan Asma’ul adalah bentuk jamaknya yang artinya Nama-Nama, dan Huzna berarti baik. Sehingga, “Asma’ul huzna” artinya “Nama-Nama yang baik”. Sedangkan menurut istilah, “Asma’ul Huzna” ialah nama-nama baik yang hanya dimiliki oleh Allah SWT (sifat wajib Allah), sebagai bukti akan keagungan-Nya. Sesuai Firman Allah dalam Al-Quran, surat Al-Isra’ : 110.
ASMAUL HUSNA (99) :
1.      Ar-Rahman ar-Rahim: Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: yang rahmat-Nya lebih melebihi luas segala sesuatu
2.      Al-Malik: Dia Yang Maha Merajai: yang merajai semua makhluk
3.      Al-Maalik: Dia Yang Maha Memiliki: yang memiliki semua kerajaan, raja-raja dan hamba
4.      Al-maliik: Pemilik Kerajaan:  yang terlaksana perintah-Nya di dalam kerajaan-Nya. Di tangan-Nya kerajaan. Dia memberikan kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambil kerajaan dari orang yang Dia kehendaki
5.      Al-Quddus (Yang Maha Suci): yang maha suci dari kekurangan dan cela, yang diberikan sifat dengan sifat kesempurnaan
6.      As-Salaam (Yang Memberi Keselamatan, Yang Melimpahkan kesejahteraan, Yang Terhindar dari segala kekurangan): yang terhindar dari segala cela, penyakit, dan kekurangan
7.      Al-Mukmin (Yang Memberi Keamanan): yang makhluk-Nya aman dari perbuatan zhalim-Nya. Dia menciptakan keamanan dan memberikan keamanan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya
8.      Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara): Yang menyaksikan atas makhluk-Nya dengan apa saja yang bersumber dari mereka, tiada suatu pun yang tidak nampak dari-Nya
9.      Al-'Aziz (Yang Maha Perkasa)": Yang milik-Nya semua keperkasaan.
10.  Al-Jabbar (Yang Maha Kuasa memaksakan semua kehendak-Nya kepada semua makhluk-Nya):
11.  Al-Mutakabbir (Yang Mempunyai segala kebesaran dan keunggulanyaa)
12.  Al-Kabir (Yang Maha Besar):
13.  Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta)
14.  Al-Khallaaq: Yang telah menciptakan dan terus menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya
15.  Al-Bari` (Yang Mengadakan)
16.  Al-Mushawwir (Yang Membentuk rupa)
17.  Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi):
18.  Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rizqi)
19.  Ar-Raziiq (Yang Memberi Rizqi)
20.  Al-Ghafur al-Ghaffar (Yang Maha pengampun)
21.  Al-Ghafir : Yang menutupi dosa hamba-Nya
22.  Al-Qaahir (Yang mempunyai kekuasaan tertinggi):
23.  Al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan)
24.  Al-Fattah (Yang Maha Pemberi Keputusan)
25.  Al-'Aliim (Yang Maha Mengetahui)
26.  Al-Majiid (Yang Maha Mulia/Yang Maha Terpuji)
27.  Ar-Rabb: Yang Maha Memiliki lagi Mengatur (semua makhluk),
28.  Al-'Azhim (Yang Maha Agung)
29.  Al-Waasi' (Yang Maha Luas karunia-Nya)
30.  Al-Karim (Yang Maha Pemurah/Mulia)
31.  Al-Akram (Yang Paling Pemurah)
32.  Al-Waduud (Yang Maha Pengasih)
33.  Al-Muqit (Yang berkuasa memberi rizqi kepada setiap makhluk, )
34.  As-Syakuur (Yang Maha mensyukuri)
35.  Asy-Syakir (Yang Mensyukuri amal kebaikan hamba-Nya)
36.  Al-Lathiif (Yang Maha Halus, Yang Maha lembut terhadap hambanya)
37.  Al-Halim (Yang Maha penyantun )
38.  Al-Khabiir (Yang Maha Mengenal, Yang Maha Mengetahui)
39.  Al-Hafiizh (Yang Maha Pemelihara)
40.  Al-Haafizh: Yang memelihara amal perbuatan hamba dan menjaga)
41.  Ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi)
42.  As-Samii' (Yang Maha Mendengar)
43.  Al-Bashir (Yang Maha Melihat)
44.  Al-'Ali, al-A'la, al-Muta'aal (Yang Maha Tinggi, Yang Paling tinggi)
45.  Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
46.  Al-Hakam al-Hakim: Yang diserahkan hukum kepada-Nya
47.  Al-Qayyum (Yang Tegak dan terus menerus mengurus makhluknya)
48.  Al-Wahid, al-Ahad (Yang Satu, Yang Tunggal)
49.  Al-Hayy (Yang Maha Hidup)
50.  Al-Haasib, al-Hasiib (Yang memberi kecukupan dengan kadar yangtepat)
51.  Asy-Syahid (Yang Maha Menyaksikan)
52.  Al-Qawii, al-Matiin (Yang Maha Kuat, Yang Maha Kokoh)
53.  Al-Walii (Yang Melindungi)
54.  Al-Maula: Yang mencintai, menolong, membantu hamba-hambanya)
55.  Al-Hamid (Yang Maha Terpuji)
56.  Al-Shamad(yangf maha sempurna )
57.  Al-Qadiir, al-Qaadir, al-Muqtadir (Yang Maha Kuasa, Yang Maha berkuasa)
58.  Al-Wakiil (Pemelihara, Pelindung )
59.  Al-Kafiil: Yang memelihara segala sesuatu
60.  Al-Ghanii (Yang Maha Kaya )
61.  Al-Haqq, al-Mubiin (Yang Benar)
62.  Al-Mubiin (Yang menjelaskan segala sesuatu menurut hakikat sebenarnya)
63.  An-Nuur (Pemberi Cahaya)
64.  Dzul Jalali wal Ikraam (Yang memiliki kebesaran dan karunia)
65.  Al-Barr (Yang Melimpahkan kebaikan)
66.  At-Tawwab (Yang Maha Penerima taubat)
67.  Al-'Afuww (Yang Maha Pemaaf)
68.  Ar-Rau`uf: Yang memiliki belas kasih. Ar-Ra`fah: kasih sayang
69.  Al-Awwaal: Yang telah ada sebelum segala sesuatu
70.  Al-Akhir: Yang tidak ada sesuatu sesudah-Nya
71.  Azh-Zhahir: Yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya
72.  Al-Warits: Yang tetap ada setelah punahnya semua makhluk-Nya.
73.  Al-Muhith (Yang meliputi terhadap segala sesuatu)
74.  Al-Qariib (Yang Maha Dekat)
75.  Al-Hadi (Yang Maha Pemberi petunjuk)
76.  Al-Badii' (Yang Maha Pencipta )
77.  Al-Faathir: Yang menciptakan semua makhluk
78.  Al-Kaafi (Yang Melindungi hamba-hamba-Nya)
79.  Al-Ghalib: Yang mengalahkan selamanya.
80.  An-Naashir, an-Nashir: Yang menolong para rasul dan parapengikut)
81.  Al-Musta'aan (Yang diminta pertolongan)
82.  Dzul Ma'arij: Yang naik kepada-Nya para malaikat dan ar-Ruh
83.  Dzuth-Thaul: Yang menguraikan karunia, nikmat, dan pemberian
84.  Dzul Fadhl: Yang memiliki segala sesuatu, memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ni'mat
85.  Ar-Rafiiq (Yang Maha Lembuh, Maha Halus)
86.  Al-Jamiil (Yang Maha Indah)
87.  Ath-Thayyib: Yang Maha Suci dari kekurangan dan cacat
88.  Asy-Syafi (Yang Menyembuhkan)
89.  As-Subbuh: Yang Maha Suci dari cacat dan kekurangan
90.  Al-Witr (Yang Maha Esa, Tunggal, Ganjil):
91.  Ad-Dayyan (Yang Maha Kuasa)
92.  Al-Muqaddim, al-Mu`akhkhir (Yang Mendahulukan, Yangmengakhirkan)
93.  Al-Hannan: Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya
94.  Al-Mannan (Yang Maha Pemberi, Yang Maha Pemurah)
95.  Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan rizqi)
96.  Al-Baasith (Yang Melapangkan rizqi)
97.  Al-Hayii, as-Sittiir: Yang menyukai orang yang pemalu
98.  As-Sayyid: Yang sempurna dalam kepemimpinan, keagungan,
99.  Al-Muhsin: Yang meliputi semua makhluk dengan kebaikan dan karunianya.
Beberapa penjelasan (arti), keutamaan dan cara mengamalkannya ;
1. ALLAAHU
Artinya :
lafadh ini disebut “LAFDHUL JALALAH”, suatu nama dari ismudz Dzat yang mencerminkan arti pengertian dari seluruh nama-namaNya yang indah itu. 
Keutamaannya :
a. Bisa mendatangkan hajat
b. Bisa menghindarkan segala musibah
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA ALLAH” sebanyak 400 kali, sebagai amalan rutin pada tiap selesai sholat Tahajud atau sholat hajat, maka apapun yang menjadi keinginannya akan segera terlaksana. Selain itu juga bisa menjauhkan dari segala macam musibah.
2. AR ROHMAANU
Artinya :
Dzat yang maha pengasih terhadap semua makhluk yang ada di dunia ini tanpa terkecuali, baik kepada yang taat ataupun yang ingkar kepadaNya sekalipun. Semua itu akan dikasihani dan dicukupi kebutuhannya.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menghilangkan sifat gugup dan lupa
b. Bisa memberikan ketenangan hati
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA ROHMAANU” sebanyak 400 kali berturut-turut setelah sholat fardlu, baginya akan dijauhkan dari kegundahan hati dan dijauhkan pula sifat gugup serta lupa.
3. AR ROHIIMU
Artinya :
Dzat yang maha penyayang terhadap hambaNya yang beriman besok di hari kiamat. Jadi kepenyayanganNya ini dikhususkan kepada semua hambaNya yang taat sewaktu berada di hari kiamat nanti.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menundukkan musuh
b. Bisa menaruh simpati pada semua orang
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA ROHIIMU” sebanyak 100 kali berturut-turut setiap selesai shot shubuh dan maghrib, maka semua orang akan menaruh simpati kepadanya dan bahkan bisa menaruh hati dan membuat musuh kita menjadi tunduk.
4. AL MALIKU
Artinya :
Dzat yang maha menguasai terhadap semua makhlukNya, sehingga tidak ada satu makhlukpun yang terlepas dari kekuasaanNya. Begitupun daerah yang ada didalam kekuasaanNya juga tidak terbatas, seperti halnya dengan daerah kekuasaan raja-raja yang ada di dunia ini.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa mendatangkan keberuntungan
b. Bisa memudahkan segala usaha
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA MALIKA” sebanyak 80 kali berturut-turut setiap pagi dan sore, maka Allah akan mendatangkan keberuntungan dan kemudahan segala usaha.

Sifat-Sifat wajib, musthil dan jaiz bagi Allah
A.      Sifat-sifat wajib bagi Allah
1.       Pengertian Sifat Wajib Bagi Allah

Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang harus ada pada Zat Allah sebagai kesempurnaan bagi_Nya. Allah adalah Khaliq, Zat yang memiliki sifat yang tidak mungkin sama dengan sifat-sifat yang dimiliki makhlukNya. Zat Allah tidak bisa dibayangkan sebagaimana bentuk, rupa dan ciri-ciriNya. Begitu juga sifat-sifatNya, tidak bisa disamakan dengan sifat-sifat makhluk.
Sifat-sifat wajib bagi Allah itu diyakini melalui akal (wajib aqli) dan berdasarkan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadits).

2.       Pembagian Sifat-sifat Wajib bagi Allah

Menurut para ulama ilmu kalam sifat-sifat wajib bagi Allah terdiri atas 20 sifat. Dari 20 sifat itu kelompokkan menjadi 4 kelompok sebagai berikut:
a.       Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Zat Allah. Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu Wujud.
b.      Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat sebaliknya, yakni sifat-sifat yang tidak sesuai, tidak layak dengan kesempurnaan Zat_Nya.
Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu:
1.       Qidam
2.       Baqa’
3.       Mukhalafatuhu lil-hawadis
4.       Qiyamuhu bi nafsihi
5.       Wahdaniyyah
c.       Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh yaitu:
1.       Qudrah
2.       Iradat
3.       Ilmu
4.       Hayat
5.       Sama
6.       Basar
7.       Kalam
d.      Sifat Ma’nawiyah, adalah kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat Ma’nawiyah tidak dapat berdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Jumlah sifat Ma’nawiyah sama dengan jumlah sifat ma’ani, yaitu:
1.       Qadiran
2.       Muridan
3.       ‘Aliman
4.       Hayyan
5.       Sami’an
6.       Basiran
7.       Mutakalliman

Beberapa penjelasan tentang sifa wajib Allah :

1.  Wujud : artinya ada, ketetapan dan kebenaran yang wajib bagi dzat Allah Swt yang tiada di sebabkan dengan sesuatu sebab adalah “ada”.
A. Dalil Aqli sifat Wujud
Adanya semesta alam yang kita lihat sudah cukup dijadikan sebagai alasan adanya Allah, sebab tidak masuk akal seandainya ada sesuatu yang dibuat tanpa ada yang membuatnya.
B. Dalil Naqli sifat Wujud
Allahlah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam (waktu) enam hari. (QS. AS sajdah [32]:4))

2.  Qidam : artinya sedia, hakikatnya adalah menafikan bermulanya wujud Allah Swt.
a. Dalil aqli sifat Qidam
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah antara qodim dan hadits. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits (yang membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga, misalnya C. Begitulah seterusnya.Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa berputar). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib bersifat Qidam.
b. Dalil Naqli sifat Qidam
Firman Allah :
Dialah yang awal dan yang akhir Yang zhohir dan yang bathin. (QS. Al-Hadid [57]:3)

3.  Baqa’ : artinya kekal, Allah Swt kekal ada dan tidak ada akhirnya
a. Dalil Aqli sifat Baqa'
Seandainya Allah tidak wajib Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang telah lewat dalam sifat Qidam.
b. Dalil Naqli Sifat Baqa'
Firman Allah :
Tiap sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya. (QS. Qoshos [28]:88)

B.      Sifat-sifat mustahil bagi Allah

1.       Pengertian Sifat Mustahil Bagi Allah
      Sifat mustahil bagi Allah SWT berarti sifat-sifat yang secara akal tidak mungkin dimiliki Allah SWT. Sifat-sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah SWT. Sifat-sifat mustahil bagi Allah SWT jumlahnya sama dengan sifat-sifat wajib bagi Allah yaitu sebanyak 20.
2.       Pembagian Sifat-sifat Mustahil Bagi Allah
      Sifat-sifat Mustahil ini merupakan kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah, karena itu jumlahnya sama, yaitu sebanyak 20 sifat. Adapun sifat-sifat mustahil tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Sifat Mustahil dari sifat nafsiyah ada satu, yaitu ‘Adam.
b.      Sifat Mustahil dari sifat Salbiyah ada lima, yaitu:
1.       Hudus
2.       Fana’
3.       Mumatsalatuhu lil-hawadits.
4.       Ihtiyajuhu li gairih
5.       Ta’addud
c.       Sifat mustahil dari sifat ma’ani ada tujuh, yaitu:
1.       ‘Ajz
2.       Karahah
3.       Jahl
4.       Maut
5.       Samam
6.       ‘Umy
7.       Bukm
d.      Sifat mustahil dari sifat ma’nawiyah ada tujuh, yaitu:
1.       ‘Ajizan
2.       Mukraham
3.       Jahilan
4.       Mayyitan
5.       Asamm
6.       A’ma
7.       Abkam

Beberapa penjekasan sifat mustahil bagi Allah
1.    ‘Adam
Adam artinya tidak ada .
Alam semesta ini ada yang menciptakan yitu Allah SWT. Tidak mungkin alam semesta ini terjadi dengan sendirinya. Tidak mungkin diciptakan oleh manusia atau mahluk yang lain. Yang menciptakan adalah Allah. Maka mustahil Allah SWT tidak ada (‘Adam) .
“Dan dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, pengelihatan dan hati( tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur. Dan Dia telah menciptakan dan mengembangbiakkan kamu di bumi dan kepadanNya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Mengapa kamu tidak memahaminya?”.(Q.S. Al-Mu’minun / 23 : 78-80 )
              
2.      Huduts
Huduts artinya baru atau ada pemulaannya.
Setiap yang baru atau ada permulaannya akan selalu didahului dengan tidak ada. Sesuatu yang tidak ada kemudian ada, pasti ada yang membuat atau menciptakan. Maka mustahil Allah SWT bersifat Huduts,  sebab siapa yang menciptakan Allah SWT ? Setiap sesuatu yang Huduts pasti ada akhirnya sehingga tidak ada lagi. Hal ini jelas mustahil (tidak mungkin) bagi Allah SWT.
 "Dialah yang awal dan akhir, yang dhahir dan yang bathin. Dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu”. ( QS. Al-Hadid / 57 : 3)


3.      Fana’
Fana’ artinya rusak.
Mustahil Allah SWT yang mengendalikan seluruh alam semesta yang amat rumit ini bersifat fana’ (rusak).
”Semua yang ada dibumi akan binasa. Dan tetap kekal Dzat tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS Ar-Rahman/55 : 26-27)

C.      Sifat-sifat jaiz bagi Allah

1.       Pengertian Sifat Ja’iz Bagi Allah
    Kata “Jaiz” menurut bahasa berarti “boleh”. Yang dimaksud dengan sifat jaiz bagi Allah ialah sifat yang boleh ada dan boleh pula tidak ada pada Allah.
     Sifat jaiz ini tidak menuntut pasti ada atau pasti tidak ada. Allah bebas dengan kehendak_Nya sendiri tanpa ada yang menghendaki. Allah boleh saja tidak menciptakan alam ini, jika dia tidak menghendaki alam ini.

2.       Pembagian Sifat Ja’iz Bagi Allah
     Berbeda dengan sifat Wajib dan sifat Mustahil, sifat Jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu:
๏ปช๏ป›๏บฎ๏บ—๏ปญ ๏บƒ๏ปฆ๏ปœ๏ปฃ๏ปค๏ปž๏ป› ๏ปž๏ปŒ๏ป“
Artinya:
    “Memperbuat segala sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuat_Nya.”

       Yang dimaksud dengan sesuatu yang mungkin terjadi adalah sesuatu yang boleh terjadi dan boleh juga tidak terjadi. Allah bebas menciptakan dan berbuat sesuatu yang Dia kehendaki.


D. Fungsi Iman Kepada Allah SWT

Fungsi iman dalam kehidupan manusia adalah sebagai pegangan hidup. Orang yang beriman tidak mudah putus asa dan ia akan memiliki akhlak yang mulia karena berpegang kepada petunjuk Allah SWT yang selalu menyuruh berbuat baik.
Fungsi iman kepada Allah SWT akan melahirkan sikap dan kepribadian seperti berikut ini.
  1. Menyadari kelemahan dirinya dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga ia tidak mau bersikap dan berlaku sombong atau takabur serta menghina orang lain
  2. Menyadari bahwa segala yang dinikmatinya berasal dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sikap menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah SWT sesuai dengan petunjuk dan kehendak Nya
  3. Menyadari bahwa dirinya pasti akan mati dan dimintai pertanggungjawaban tentang segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
  4. Merasa bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Ia akan berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang yang melihatnya namun Allah Maha Melihat. Dalam salah satu riwayat pernah dikisahkan, pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab menjumpai seorang anak pengembala kambing. Lalu Khalifah meminta kepada gembala itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja harganya. Namun anak itu berkata: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu Khalifah Umar berkata lagi: “Bukankah majikanmu tidak ada disini?” Jawab anak gemabala tersebut,” Memang benar majikanku tidak disini dan ia tidak mengetahuinya, tetapi Allah Maha Mengetahui” mendengar jawaban anak itu, Umar tertegun karena merasa kagum atas kualitas keimanan anak itu, yakni Allah SWT Maha Melihat dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Sadar dan segera bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa. Ia akan segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya, sebagai mana diterangkan dalam Al Qur’an:
Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS An Nisa :135)
Fungsi iman kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap akhlak mulia pada diri seseorang. Ia akan selalu berkata benar, jujur, tidak sombong dan merasa dirinya lemah dihadapan Allah SWT serta tidak berani melanggar larangannya karena ia mempunyai iman yang kokoh. Oleh karena itu, iman memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang paling ampuh untuk membentengi diri dari segala pengaruh dan bujukan yang menyesatkan. Iman juga sebagai pendorong seseorang untuk melakukan segala amal shaleh.

E. Hikmah dan Manfaat Beriman Kepada Allah

Hikmah beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1.      Hatinya tenang,tidak goyah,tidak terobang –ambing oleh ajakn nafsu jahat atau orang –orang yang menyesatkan sesuai firman Allah dalam qs Ar Ra’du ayat 28
2.      Orang yang beriman akan selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT.
3.      Orang yang beriman akan memiliki sikap dan jiwa sosial yang terpuji karena Allah telah memberikan rahmat dan karunianya yang melimpah.
4.      Orang yang berimaan akan selalu melakukan amalan-amalan shaleh terhadap semua makhluk citaan Allah.
5.      Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman kedalam surga sebagai rahmatnya dan pahala atas ketaatan serta keatuhan selama hidup di dunia. QS al maidah ayat 9.[1][11]

Adapun  manfaat beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1.      Menguatkan tauhid(peng-Esa-an)kepada Allah,sehingga seseorang yang telah beriman kepada Allah,tidak akan menggantungkan dirinya kepada sesuatu selain Allah,baik dengan cara berharap ataupun takut kepadanya,dan ia tidak akan menyembah selain Allah.
2.      Seseorang akan mencintai Allah secara sempurna dan akan mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang baik(asma’ul husna)dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
3.      Mewujudkan penghambaan diri kepada Allah yaitu dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
































BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Iman menurut bahasa, kata iman berarti percaya. Sedangkan menurut pengertian istilahi,khususnya dalam perspektif islam,iman adalah memercayai dan mengikuti segala apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,baik yang berkenaan dengan akidah,ibadah maupun muamalah.pngertian iman disepakati bahwa iman yang benar adalah harus diyakini dalam hati,diikrarkan melalui lisan dan dimanifestasikan dalam tindakan yang berupa pelaksanaan ibadah dan amal saleh
Allah SWT memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan memiliki 1 sifat jaiz, semua sifat  ini wajib kita imani sebagai muslim sejati.
Hikmah beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1.      Hatinya tenang,tidak goyah,tidak terobang –ambing oleh ajakn nafsu jahat atau orang –orang yang menyesatkan.sesuai firman Allah dalam qs Ar Ra’du ayat 28
2.      Orang yang beriman akan selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT.
3.      Orang yang beriman akan memiliki sikap dan jiwa sosial yang terpuji karena Allah telah memberikan rahmat dan karunianya yang melimpah.
4.      Orang yang berimaan akan selalu melakukan amalan2 shaleh terhadap semua makhluk citaan Allah.
5.      Allah akan memasukkan orang2 yang beriman kedalam surga sebagai rahmatnya dan  pahala atas ketaatan serta keatuhan selama hidup di dunia.

1.  Merealisasikan  pengesaan  Allah  Subhanahu  Wa  Ta'ala  sehingga   tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut  kepada  yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya
2.  Menyempurnakan  kecintaan   terhadap   Allah,  serta   mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi
3.  Merealisasikan   ibadah   kepada   Allah   dengan   mengerjakan   apa   yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya
4. Dengan   kita   mempelajari   Iman   Kepada   Allah   maka   hendaknya   kita meningkatkan  keimanan  dan  taqwa  kita   pada  Allah  SWT  sebagai  bentuk pertanggungjawaban kita sebagai hamba.
DAFTAR PUSTAKA


Kitab Aqidatul Awwam
Al-Asyqar Sulaeman Umar, Dr. Prof, 2004, Al-Asmaul Husna, Penerjemah
Syamsuddin TU dan Hasan Suraedi, Penyu ting Syamsuddin Tu. Cet. 1. Qisthi Press, Jakarta.
Syamsyuri, 2006, Pendidikan Agama Islam Untuk Kelas X, Jakarta: Erlangga.
Da’ud, Ma’mur, 1983, Terjemah Hadits Sahih Muslim Jilid I-IV, Widya, Jakarta
Al-qur’an dan terjemahannya
Abd khadir, An Nurul Bahri Ilal Imanil Kamil , Serajaya Santra:Jakarta, 1985
munir,sudarsono,dasar-dasar agama islam,rineka cipta,jakarta,1992
Latief rousdiy,agama dalam kehidupan manusia,rimbow,jakarta,1986
Suryan A.Jamrah,Studi ilmu Kalam, Program Pasca Sarjana UIN Suska Riau, Pekanbaru: 2007
Syaikh Muhammad bin shalih Al Utsaimin,Sifat-sifat Allah dalam pandangan Ibnu  Taimiyah,Pustaka
Azzam,Jakarta,2005
Teungku Muhammad Hasby Ash Shiddieqy,AL ISLAMI 1,Pustaka Rizki Putra : Semarang , 1998
Thoyib sah saputra,Aqidah akhlak,karya toha putra,semarang,1996