KATA
PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan hidayah, rahmad serta karuniaNya sehingga dapat menyelesaikan
makalah Pendidikan Agama Islam ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabatnya, juga seluruh pengikutnya di
seluruh dunia, sejak awal kebangkitan Islam
hingga hari kiamat.
Makalah ini bertujuan untuk
meningkatkan ketaqwaan mahasiswa kepada Allah SWT serta memahami dan
mengamalkan agama islam sehingga menjadi seorang muslim yang beriman dan
berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,bermasyarakat,dan bernegara. Kami juga
berharap kaum muslim khususnya para mahasiswa dapat belajar tentang sifat-sifat
Allah SWT dalam al-asmaul husna maupun sifat wajib, jaiz dan mustahil serta
dapat mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.
Ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kami sampaikan pada Bapak Muhibbin selaku dosen pembimbing
kami,sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu.Tidak lupa kepada semua
pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyk kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.Maka dari itu kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun. Semoga Allah SWT meridhoi usaha dan niat baik kita bersama dalam upaya mewujudkan mahasiswa yang cerdas dan beriman. Amin.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyk kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.Maka dari itu kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun. Semoga Allah SWT meridhoi usaha dan niat baik kita bersama dalam upaya mewujudkan mahasiswa yang cerdas dan beriman. Amin.
Malang, Mei 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam dan iman
bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan
;
amal perbuatan yang nampak, yaitu
rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak
nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang
disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum
keduanya
Iman lebih umum
dari pada Islam dari maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada
tingkatan iman kecuali apabila
telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya;
karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan
semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiapmuslim adalah mukmin.
Rukun iman yang pertama adalah Iman
Kepada Allah SWT. Maka dalam makalah ini yang akan kami sampaikan
adalah pengertian Iman kepada Allah dan cara beriman kepada
Allah SWT
B.
Rumusan Masalah
1.Pengertian Iman Kepada Allah
2.Beberapa karaker iman kepada Allah
3.Fungsi Iman Kepada Allah SWT
4.Hikmah
dan Manfaat Beriman
Kepada Allah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Iman
Iman adalah
ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, serta amal hati. Artinya pengakuan yang di (ucapkan) dalam hati dan
lisan serta bersedia melakukan yang dibenarkannya melalui amal hati. Dari Abu Hurairah, ia berkata,
"Rasulullah bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh
atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan
laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim. Sehingga dapat disimpulkan iman merupakan Suatu yang
tersembunyi dalam jiwa/ pengakuan dalam lubuk hati.
Sebagaimana
kita ketahui dalam agama Islam memiliki 6 Rukun Iman yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepadaqadla dan qadar (ketentuan).
B.
Iman kepada Allah
Berdasar pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa iman kepada Allah adalah meyakini mempercayai membenarkan dengan hati bahwa Allah itu ada sebagai tuhan yang Maha Esa dengan segala sifat kesempurnaannya, mengucapkan mengikrarkan adanya Allah secara lisan dan bersedia melakukan apa yang telah dibenarkan oleh hati dan diucapkan oleh lisan sebagai keimanan seseorang, dibuktikan dengan perbuatan amal soleh. Mutakalimin iman adalah pembenaran dalam hati,penuturan menurut lisan dan pengamalan oleh anggota badan.
Iman juga sering di interpretasikan
dengan istilah tauhid. Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari
fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan
sesuatu satu saja. Syaikh Ibnu Sholeh Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak
tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain
sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Lihat
Syarh Tsalatsatil Ushul).
Secara istilah syar’i, makna tauhid
adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan
segala kekhususannya (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Dari makna ini
sesungguhnya dapat dipahami bahwa sesungguh banyak hal yang dijadikan
sesembahan oleh manusia, bisa jadi mereka menyembah Malaikat, menyembah para
Nabi, menyembah orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun
seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan
saja.
C.
Iman kepada Allah
mengandung 4 karakter :
1.
Beriman dengan adanya Allah
Allah telah
memberikan fithrah (insting) kepada setiap makhluk untuk beriman kepada
Penciptanya. Seperti firman Allah :
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (terhadap atas) firman allah yang
telah menciptakan manusia menurut; fitrah
itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rumm :30)
Akal sehat
menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya
makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya, harus ada
sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya
sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai
pencipta. Dia-lah Allah Rabb semesta
alam. Seperti firman Allah ;
Perasaan menunjukkan adanya Allah. Sesungguhnya kita melihat
silih bergantinya malam dan siang, rizqi manusia dan hewan, mengatur urusan
semua makhluk, memberikan indikasi yang pasti terhadap ada-Nya.
Allah mempergantikan malam dan siang.Sesungguhnya pada yang
demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai
penglihatan. (QS. An- Nur :44
Allah
memperkuat para rasul dan nabi-Nya dengan tanda-tanda dan mukjizat yang dilihat
atau didengar manusia. Mukjizat merupakan perkara-perkara yang berada di luar batas
kemampuan manusia. Allah memperkuat dan menolong para rasul-Nya dengan mukjizat
tersebut. Ini merupakan tanda yang pasti terhadap adanya yang mengutus mereka,
Dia-lah Allah. Seperti, Allah membuat api menjadi dingin dan keselamatan
terhadap Ibrahim, membelah laut bagi Musa, menghidupkan orang mati bagi
Isa, dan membelah bulan bagi Muhammad.
Sudah sekian
banyak Allah mengabulkan orang-orang yang berdoa, memberi kepada orang-orang
yang meminta, menolong orang-orang yang kesusahan, yang menunjukkan ada, mengetahui,
dan berkuasa-Nya Allah.
Firman allah:
Ingatlah,
ketika kamu memohon pertolongan
kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya
bagimu :"Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang bertutut- turut". (QS. Al-Anfaal :9)
Syara' menunjukkan adanya Allah.
Maka, hukum-hukum yang mencakup untuk segala kepentingan makhluk, dan yang
diturunkan oleh Allah di dalam kitab-kitab-Nya terhadap para nabi dan rasul-Nya
merupakan bukti bahwa hal itu berasal dari Rabb Yang Maha Bijaksana, Maha
Kuasa, Maha Mengetahui terhadap segala kepentingan hamba-Nya
2.
Beriman dan percaya bahwa Allah
adalah Rabb
satu-satunya,
tidak
ada sekutu bagiNya.
Rabb adalah yang memiliki ciptaan, kerajaan, dan perkara. Maka, tiada yang
menciptakan kecuali Allah , tiada yang menjadi raja selain Allah, dan semua
perkara adalah milik-Nya. Makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah
kerajaan-Nya, dan perkara adalah perkara-Nya. Yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Mengasihi apabila diminta kasih
sayang-Nya, mengampuni apabila diminta ampunan-Nya, memberi apabila diminta,
dan mengabulkan bila dimohon. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus
(makhluk-Nya), tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur
3. Beriman
kepada uluhiyah Allah
Kita mengetahui dan meyakini bahwa
hanya Allah saja illah yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya Dia
yang berhak disembah. Dia-lah Rabb semesta alam, illah alam jagad raya. Kita menyembah-Nya
dengan cara yang Dia syari'atkan, kesempurnaan cinta dan kesempurnaan
pengagungan. Kita
mengetahui dan meyakini bahwa sebagaimana Allah Maha Esa dalam rububiyah-Nya (Rububiyah yaitu mengenal Allah
melalui perbuatan-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka,
demikian pula Dia Maha Esa pada uluhiyah-Nya, tiada ada sekutu bagi-Nya. Maka,
kita hanya menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dan kita menjauhi
penyembahan kepada selain-Nya.
Uluhiyah artinya mentauhidkan Allah
dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan hamba atau mengikhlaskan semua ibadah
hanya kepada-Nya
4.
Beriman kepada Asma dan Sifat Allah
Pengertiannya yakni memahami
Asma dan sifat Allah,
menghapalnya, mengakuinya, menyembah kepada Allah dengannya, dan mengamalkan tuntutannya dan keagungan Allah mengisi hati semua hamba dengan rasa
takut dan pengagungan terhadap-Nya
Mengenal
sifat kemuliaan, kemampuan, kekuasaan mengisi hati dengan sifat hina, tunduk,
dan merendahkan diri di hadapan Rabb-nya. Mengenal sifat-sifat kasih
sayang, kebaikan, kemurahan, dan pemberi mengisi hati dangan rasa ingin dan
berharap pada karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah. Gabungan semua sifat ini
mengharuskan bagi sifat mahabbah (cinta), rindu, tenang, tawakkal, dan
mendekatkan diri kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya
Kita menetapkan bagi Allah asma` dan sifat yang
ditetapkan-Nya untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasulullah bagi-Nya. Kita beriman
kepada asma dan sifat-Nya serta makna dan pengaruh yang terdapat asma dan sifat
tersebut . Kita beriman bahwa Allah (Maha Pengasih) dan pengertiannya adalah
bahwa Dia mempunyai sifat kasih sayang. Dan di antara pengaruh dari nama ini:
bahwa Dia memberikan kasih sayang kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan,
seperti inilah penjelasan pada nama-nama yang lain. Kita menetapkan hal itu
berdasarkan atas sifat dan asma` yang pantas bagi kebesaran Allah tanpa
ada tahrif (mengubah lafazh dan membelokkan makna sebenarnya), ta'thil
(pengingkaran seluruh atau sebagian asma` dan sifat Allah), takyif (menanyakan
bagaimana Allah), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-nya)
Asma` Allah
Yang Maha Indah Asma` Allah mengindikasikan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Asma’ diambil dari sifat. Maka, ia adalah asma` dan sifat, karena sebab itulah
ia menjadi indah. Mengetahui Allah, asma dan sifat-Nya merupakan ilmu yang
paling mulia, paling agung dan paling wajib. Di antara asma` Allah adalah
Allah: yaitu yang dituhankan, yang disembah, dicintai, diagungkan oleh semua
makhluk, tunduk bagi-Nya dan kembali kepada-Nya dalam segala kebutuhan
ASMA’UL HUSNA
Pengertian Asma’ul Husna
Menurut bahasa, Asma berarti Nama,
sedangkan Asma’ul adalah bentuk jamaknya yang artinya
Nama-Nama, dan Huzna berarti baik.
Sehingga, “Asma’ul huzna” artinya “Nama-Nama yang baik”. Sedangkan menurut
istilah, “Asma’ul Huzna” ialah nama-nama baik yang hanya dimiliki oleh Allah
SWT (sifat wajib Allah), sebagai bukti akan keagungan-Nya. Sesuai Firman Allah
dalam Al-Quran, surat Al-Isra’ : 110.
ASMAUL HUSNA (99) :
1.
Ar-Rahman ar-Rahim: Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang: yang rahmat-Nya lebih melebihi luas segala sesuatu
2. Al-Malik:
Dia Yang Maha Merajai: yang merajai semua makhluk
3. Al-Maalik:
Dia Yang Maha Memiliki: yang memiliki semua kerajaan, raja-raja dan hamba
4. Al-maliik:
Pemilik Kerajaan: yang terlaksana perintah-Nya di dalam kerajaan-Nya.
Di tangan-Nya kerajaan. Dia memberikan kerajaan kepada orang yang
dikehendaki-Nya dan mengambil kerajaan dari orang yang Dia kehendaki
5. Al-Quddus
(Yang Maha Suci): yang maha suci dari kekurangan dan cela, yang diberikan
sifat dengan sifat kesempurnaan
6.
As-Salaam (Yang Memberi Keselamatan, Yang Melimpahkan kesejahteraan,
Yang Terhindar dari segala kekurangan): yang terhindar dari segala
cela, penyakit, dan kekurangan
7. Al-Mukmin
(Yang Memberi Keamanan): yang makhluk-Nya aman dari perbuatan zhalim-Nya.
Dia menciptakan keamanan dan memberikan keamanan kepada hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya
8.
Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara): Yang menyaksikan atas makhluk-Nya
dengan apa saja yang bersumber dari mereka, tiada suatu pun yang
tidak nampak dari-Nya
9. Al-'Aziz
(Yang Maha Perkasa)": Yang milik-Nya semua keperkasaan.
10. Al-Jabbar (Yang Maha Kuasa
memaksakan semua kehendak-Nya kepada
semua makhluk-Nya):
11. Al-Mutakabbir (Yang
Mempunyai segala kebesaran dan keunggulanyaa)
12. Al-Kabir (Yang Maha Besar):
13. Al-Khaliq (Yang Maha
Pencipta)
14. Al-Khallaaq: Yang telah
menciptakan dan terus menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya
15. Al-Bari` (Yang Mengadakan)
16. Al-Mushawwir (Yang
Membentuk rupa)
17. Al-Wahhab
(Yang Maha Pemberi):
18. Ar-Razzaq (Yang Maha
Pemberi Rizqi)
19. Ar-Raziiq (Yang Memberi
Rizqi)
20. Al-Ghafur al-Ghaffar (Yang
Maha pengampun)
21. Al-Ghafir : Yang menutupi
dosa hamba-Nya
22. Al-Qaahir (Yang mempunyai
kekuasaan tertinggi):
23. Al-Qahhar (Yang Maha
Mengalahkan)
24. Al-Fattah (Yang Maha
Pemberi Keputusan)
25. Al-'Aliim (Yang Maha
Mengetahui)
26. Al-Majiid (Yang Maha
Mulia/Yang Maha Terpuji)
27. Ar-Rabb: Yang Maha Memiliki
lagi Mengatur (semua makhluk),
28. Al-'Azhim (Yang Maha Agung)
29. Al-Waasi' (Yang Maha Luas
karunia-Nya)
30. Al-Karim (Yang Maha
Pemurah/Mulia)
31. Al-Akram (Yang Paling
Pemurah)
32. Al-Waduud (Yang Maha
Pengasih)
33. Al-Muqit (Yang berkuasa
memberi rizqi kepada setiap makhluk, )
34. As-Syakuur (Yang Maha
mensyukuri)
35. Asy-Syakir (Yang Mensyukuri
amal kebaikan hamba-Nya)
36. Al-Lathiif (Yang Maha
Halus, Yang Maha lembut terhadap hambanya)
37. Al-Halim (Yang Maha
penyantun )
38. Al-Khabiir (Yang Maha
Mengenal, Yang Maha Mengetahui)
39. Al-Hafiizh (Yang Maha
Pemelihara)
40. Al-Haafizh: Yang memelihara
amal perbuatan hamba dan menjaga)
41. Ar-Raqiib (Yang Maha
Mengawasi)
42. As-Samii' (Yang Maha
Mendengar)
43. Al-Bashir (Yang Maha
Melihat)
44. Al-'Ali, al-A'la, al-Muta'aal (Yang
Maha Tinggi, Yang Paling
tinggi)
45. Al-Hakim (Yang Maha
Bijaksana)
46. Al-Hakam al-Hakim: Yang
diserahkan hukum kepada-Nya
47. Al-Qayyum (Yang Tegak dan
terus menerus mengurus makhluknya)
48. Al-Wahid, al-Ahad (Yang
Satu, Yang Tunggal)
49. Al-Hayy (Yang Maha Hidup)
50. Al-Haasib, al-Hasiib (Yang
memberi kecukupan dengan kadar yangtepat)
51. Asy-Syahid (Yang Maha
Menyaksikan)
52. Al-Qawii, al-Matiin (Yang
Maha Kuat, Yang Maha Kokoh)
53. Al-Walii (Yang Melindungi)
54. Al-Maula: Yang mencintai,
menolong, membantu hamba-hambanya)
55. Al-Hamid (Yang Maha
Terpuji)
56. Al-Shamad(yangf maha sempurna )
57. Al-Qadiir, al-Qaadir, al-Muqtadir
(Yang Maha Kuasa, Yang Maha berkuasa)
58. Al-Wakiil (Pemelihara,
Pelindung )
59. Al-Kafiil: Yang memelihara
segala sesuatu
60. Al-Ghanii (Yang Maha Kaya
)
61. Al-Haqq, al-Mubiin (Yang
Benar)
62. Al-Mubiin (Yang menjelaskan
segala sesuatu menurut hakikat sebenarnya)
63. An-Nuur (Pemberi Cahaya)
64. Dzul Jalali wal Ikraam
(Yang memiliki kebesaran dan karunia)
65. Al-Barr (Yang Melimpahkan
kebaikan)
66. At-Tawwab (Yang Maha
Penerima taubat)
67. Al-'Afuww (Yang Maha
Pemaaf)
68. Ar-Rau`uf: Yang memiliki
belas kasih. Ar-Ra`fah: kasih sayang
69. Al-Awwaal: Yang telah ada
sebelum segala sesuatu
70. Al-Akhir: Yang tidak ada
sesuatu sesudah-Nya
71. Azh-Zhahir: Yang tidak ada
sesuatu pun di atas-Nya
72. Al-Warits: Yang tetap ada
setelah punahnya semua makhluk-Nya.
73. Al-Muhith (Yang meliputi
terhadap segala sesuatu)
74. Al-Qariib (Yang Maha Dekat)
75. Al-Hadi (Yang Maha Pemberi
petunjuk)
76. Al-Badii' (Yang Maha
Pencipta )
77. Al-Faathir: Yang
menciptakan semua makhluk
78. Al-Kaafi (Yang Melindungi
hamba-hamba-Nya)
79. Al-Ghalib: Yang mengalahkan
selamanya.
80. An-Naashir, an-Nashir: Yang
menolong para rasul dan parapengikut)
81. Al-Musta'aan (Yang diminta
pertolongan)
82. Dzul Ma'arij: Yang naik
kepada-Nya para malaikat dan ar-Ruh
83. Dzuth-Thaul: Yang
menguraikan karunia, nikmat, dan pemberian
84. Dzul Fadhl: Yang memiliki
segala sesuatu, memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai
macam ni'mat
85. Ar-Rafiiq (Yang Maha
Lembuh, Maha Halus)
86. Al-Jamiil (Yang Maha Indah)
87. Ath-Thayyib: Yang Maha Suci
dari kekurangan dan cacat
88. Asy-Syafi (Yang
Menyembuhkan)
89. As-Subbuh: Yang Maha Suci
dari cacat dan kekurangan
90. Al-Witr (Yang Maha Esa,
Tunggal, Ganjil):
91. Ad-Dayyan (Yang Maha Kuasa)
92. Al-Muqaddim, al-Mu`akhkhir
(Yang Mendahulukan, Yangmengakhirkan)
93. Al-Hannan: Yang Maha
Penyayang terhadap hamba-Nya
94. Al-Mannan (Yang Maha
Pemberi, Yang Maha Pemurah)
95. Al-Qaabidh (Yang
Menyempitkan rizqi)
96. Al-Baasith (Yang
Melapangkan rizqi)
97. Al-Hayii, as-Sittiir: Yang
menyukai orang yang pemalu
98. As-Sayyid: Yang sempurna
dalam kepemimpinan, keagungan,
99. Al-Muhsin: Yang meliputi
semua makhluk dengan kebaikan dan karunianya.
Beberapa penjelasan (arti), keutamaan dan cara
mengamalkannya ;
1. ALLAAHU
Artinya :
lafadh ini disebut “LAFDHUL JALALAH”, suatu nama dari ismudz Dzat yang mencerminkan arti pengertian dari seluruh nama-namaNya yang indah itu.
Keutamaannya :
a. Bisa mendatangkan hajat
b. Bisa menghindarkan segala musibah
lafadh ini disebut “LAFDHUL JALALAH”, suatu nama dari ismudz Dzat yang mencerminkan arti pengertian dari seluruh nama-namaNya yang indah itu.
Keutamaannya :
a. Bisa mendatangkan hajat
b. Bisa menghindarkan segala musibah
Cara mengamalkan Asmaul Husna
:
Barang siapa membaca “YAA ALLAH” sebanyak 400 kali, sebagai amalan rutin pada tiap selesai sholat Tahajud atau sholat hajat, maka apapun yang menjadi keinginannya akan segera terlaksana. Selain itu juga bisa menjauhkan dari segala macam musibah.
Barang siapa membaca “YAA ALLAH” sebanyak 400 kali, sebagai amalan rutin pada tiap selesai sholat Tahajud atau sholat hajat, maka apapun yang menjadi keinginannya akan segera terlaksana. Selain itu juga bisa menjauhkan dari segala macam musibah.
2. AR ROHMAANU
Artinya :
Dzat yang maha pengasih terhadap semua makhluk yang ada di dunia ini tanpa terkecuali, baik kepada yang taat ataupun yang ingkar kepadaNya sekalipun. Semua itu akan dikasihani dan dicukupi kebutuhannya.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menghilangkan sifat gugup dan lupa
b. Bisa memberikan ketenangan hati
Dzat yang maha pengasih terhadap semua makhluk yang ada di dunia ini tanpa terkecuali, baik kepada yang taat ataupun yang ingkar kepadaNya sekalipun. Semua itu akan dikasihani dan dicukupi kebutuhannya.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menghilangkan sifat gugup dan lupa
b. Bisa memberikan ketenangan hati
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA ROHMAANU” sebanyak 400 kali berturut-turut setelah sholat fardlu, baginya akan dijauhkan dari kegundahan hati dan dijauhkan pula sifat gugup serta lupa.
Barang siapa membaca “YAA ROHMAANU” sebanyak 400 kali berturut-turut setelah sholat fardlu, baginya akan dijauhkan dari kegundahan hati dan dijauhkan pula sifat gugup serta lupa.
3. AR ROHIIMU
Artinya :
Dzat yang maha penyayang terhadap hambaNya yang beriman besok di hari kiamat. Jadi kepenyayanganNya ini dikhususkan kepada semua hambaNya yang taat sewaktu berada di hari kiamat nanti.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menundukkan musuh
b. Bisa menaruh simpati pada semua orang
Dzat yang maha penyayang terhadap hambaNya yang beriman besok di hari kiamat. Jadi kepenyayanganNya ini dikhususkan kepada semua hambaNya yang taat sewaktu berada di hari kiamat nanti.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa menundukkan musuh
b. Bisa menaruh simpati pada semua orang
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA ROHIIMU” sebanyak 100 kali berturut-turut setiap selesai shot shubuh dan maghrib, maka semua orang akan menaruh simpati kepadanya dan bahkan bisa menaruh hati dan membuat musuh kita menjadi tunduk.
Barang siapa membaca “YAA ROHIIMU” sebanyak 100 kali berturut-turut setiap selesai shot shubuh dan maghrib, maka semua orang akan menaruh simpati kepadanya dan bahkan bisa menaruh hati dan membuat musuh kita menjadi tunduk.
4. AL MALIKU
Artinya :
Dzat yang maha menguasai terhadap semua makhlukNya, sehingga tidak ada satu makhlukpun yang terlepas dari kekuasaanNya. Begitupun daerah yang ada didalam kekuasaanNya juga tidak terbatas, seperti halnya dengan daerah kekuasaan raja-raja yang ada di dunia ini.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa mendatangkan keberuntungan
b. Bisa memudahkan segala usaha
Dzat yang maha menguasai terhadap semua makhlukNya, sehingga tidak ada satu makhlukpun yang terlepas dari kekuasaanNya. Begitupun daerah yang ada didalam kekuasaanNya juga tidak terbatas, seperti halnya dengan daerah kekuasaan raja-raja yang ada di dunia ini.
Keutamaan Asmaul Husna :
a. Bisa mendatangkan keberuntungan
b. Bisa memudahkan segala usaha
Cara mengamalkan Asmaul Husna :
Barang siapa membaca “YAA MALIKA” sebanyak 80 kali berturut-turut setiap pagi dan sore, maka Allah akan mendatangkan keberuntungan dan kemudahan segala usaha.
Barang siapa membaca “YAA MALIKA” sebanyak 80 kali berturut-turut setiap pagi dan sore, maka Allah akan mendatangkan keberuntungan dan kemudahan segala usaha.
Sifat-Sifat wajib, musthil dan
jaiz bagi Allah
A.
Sifat-sifat wajib bagi Allah
1.
Pengertian Sifat Wajib Bagi Allah
Sifat
wajib bagi Allah adalah sifat yang harus ada pada Zat Allah sebagai kesempurnaan
bagi_Nya. Allah adalah Khaliq, Zat yang memiliki sifat yang tidak mungkin sama
dengan sifat-sifat yang dimiliki makhlukNya. Zat Allah tidak bisa dibayangkan
sebagaimana bentuk, rupa dan ciri-ciriNya. Begitu juga sifat-sifatNya, tidak
bisa disamakan dengan sifat-sifat makhluk.
Sifat-sifat
wajib bagi Allah itu diyakini melalui akal (wajib
aqli) dan berdasarkan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadits).
2.
Pembagian Sifat-sifat Wajib bagi Allah
Menurut
para ulama ilmu kalam sifat-sifat wajib bagi Allah terdiri atas 20 sifat. Dari
20 sifat itu kelompokkan menjadi 4 kelompok sebagai berikut:
a. Sifat
Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Zat Allah. Sifat nafsiyah ini ada
satu, yaitu Wujud.
b. Sifat
Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat sebaliknya, yakni
sifat-sifat yang tidak sesuai, tidak layak dengan kesempurnaan Zat_Nya.
Sifat
Salbiyah ini ada lima, yaitu:
1. Qidam
2. Baqa’
3. Mukhalafatuhu lil-hawadis
4. Qiyamuhu bi nafsihi
5. Wahdaniyyah
c. Sifat
Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk
sifat ma’ani ada tujuh yaitu:
1. Qudrah
2. Iradat
3. Ilmu
4. Hayat
5. Sama
6. Basar
7. Kalam
d. Sifat Ma’nawiyah,
adalah kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat Ma’nawiyah tidak dapat berdiri
sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Jumlah sifat
Ma’nawiyah sama dengan jumlah sifat ma’ani, yaitu:
1. Qadiran
2. Muridan
3. ‘Aliman
4. Hayyan
5. Sami’an
6. Basiran
7. Mutakalliman
Beberapa
penjelasan tentang sifa wajib Allah :
1. Wujud : artinya ada, ketetapan dan
kebenaran yang wajib bagi dzat Allah Swt yang tiada di sebabkan dengan sesuatu
sebab adalah “ada”.
A. Dalil Aqli sifat Wujud
Adanya semesta alam yang kita lihat sudah cukup dijadikan sebagai alasan adanya Allah, sebab tidak masuk akal seandainya ada sesuatu yang dibuat tanpa ada yang membuatnya.
B. Dalil Naqli sifat Wujud
Allahlah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam (waktu) enam hari. (QS. AS sajdah [32]:4))
A. Dalil Aqli sifat Wujud
Adanya semesta alam yang kita lihat sudah cukup dijadikan sebagai alasan adanya Allah, sebab tidak masuk akal seandainya ada sesuatu yang dibuat tanpa ada yang membuatnya.
B. Dalil Naqli sifat Wujud
Allahlah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam (waktu) enam hari. (QS. AS sajdah [32]:4))
2. Qidam : artinya sedia, hakikatnya
adalah menafikan bermulanya wujud Allah Swt.
a. Dalil aqli sifat Qidam
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah antara qodim dan hadits. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits (yang membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga, misalnya C. Begitulah seterusnya.Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa berputar). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib bersifat Qidam.
b. Dalil Naqli sifat Qidam
Firman Allah :
Dialah yang awal dan yang akhir Yang zhohir dan yang bathin. (QS. Al-Hadid [57]:3)
a. Dalil aqli sifat Qidam
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah antara qodim dan hadits. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits (yang membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga, misalnya C. Begitulah seterusnya.Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa berputar). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib bersifat Qidam.
b. Dalil Naqli sifat Qidam
Firman Allah :
Dialah yang awal dan yang akhir Yang zhohir dan yang bathin. (QS. Al-Hadid [57]:3)
3. Baqa’ : artinya kekal, Allah Swt kekal
ada dan tidak ada akhirnya
a. Dalil Aqli sifat Baqa'
Seandainya Allah tidak wajib Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang telah lewat dalam sifat Qidam.
b. Dalil Naqli Sifat Baqa'
Firman Allah :
Tiap sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya. (QS. Qoshos [28]:88)
a. Dalil Aqli sifat Baqa'
Seandainya Allah tidak wajib Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang telah lewat dalam sifat Qidam.
b. Dalil Naqli Sifat Baqa'
Firman Allah :
Tiap sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya. (QS. Qoshos [28]:88)
B. Sifat-sifat
mustahil bagi Allah
1.
Pengertian Sifat Mustahil Bagi Allah
Sifat mustahil bagi Allah SWT
berarti sifat-sifat yang secara akal tidak mungkin dimiliki Allah SWT.
Sifat-sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah SWT.
Sifat-sifat mustahil bagi Allah SWT jumlahnya sama dengan sifat-sifat wajib
bagi Allah yaitu sebanyak 20.
2.
Pembagian Sifat-sifat Mustahil Bagi Allah
Sifat-sifat Mustahil ini merupakan
kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah, karena itu jumlahnya sama, yaitu
sebanyak 20 sifat. Adapun sifat-sifat mustahil tersebut adalah sebagai berikut:
a. Sifat
Mustahil dari sifat nafsiyah ada satu, yaitu ‘Adam.
b. Sifat
Mustahil dari sifat Salbiyah ada lima, yaitu:
1. Hudus
2. Fana’
3. Mumatsalatuhu lil-hawadits.
4. Ihtiyajuhu li gairih
5. Ta’addud
c. Sifat
mustahil dari sifat ma’ani ada tujuh, yaitu:
1. ‘Ajz
2. Karahah
3. Jahl
4. Maut
5. Samam
6. ‘Umy
7. Bukm
d. Sifat
mustahil dari sifat ma’nawiyah ada tujuh, yaitu:
1. ‘Ajizan
2. Mukraham
3. Jahilan
4. Mayyitan
5. Asamm
6. A’ma
7. Abkam
Beberapa
penjekasan sifat mustahil bagi Allah
1.
‘Adam
Adam artinya
tidak ada .
Alam semesta
ini ada yang menciptakan yitu Allah SWT. Tidak mungkin alam semesta ini terjadi dengan
sendirinya. Tidak
mungkin diciptakan oleh manusia atau mahluk yang lain. Yang menciptakan adalah Allah. Maka mustahil
Allah SWT tidak ada (‘Adam) .
“Dan dialah
yang menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, pengelihatan dan hati( tetapi) amat
sedikitlah kamu bersyukur. Dan Dia telah menciptakan dan mengembangbiakkan kamu di bumi dan
kepadanNya-lah kamu
akan dihimpunkan. Dan Dialah yang menghidupkan dan
mematikan dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Mengapa kamu
tidak memahaminya?”.(Q.S.
Al-Mu’minun / 23 : 78-80 )
2. Huduts
Huduts artinya
baru atau ada pemulaannya.
Setiap yang
baru atau ada permulaannya akan selalu didahului dengan tidak ada. Sesuatu yang
tidak ada kemudian
ada, pasti ada yang membuat atau menciptakan. Maka mustahil Allah SWT bersifat
Huduts, sebab siapa yang menciptakan Allah SWT
? Setiap sesuatu yang Huduts pasti
ada akhirnya sehingga tidak ada lagi. Hal ini jelas
mustahil (tidak mungkin) bagi Allah SWT.
"Dialah yang awal dan akhir, yang dhahir dan yang
bathin. Dan Dia maha
Mengetahui segala sesuatu”. ( QS. Al-Hadid / 57 : 3)
3. Fana’
Fana’ artinya rusak.
Mustahil Allah
SWT yang mengendalikan seluruh alam semesta yang amat rumit ini bersifat fana’
(rusak).
”Semua yang ada
dibumi akan binasa. Dan tetap kekal Dzat tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan”. (QS
Ar-Rahman/55 : 26-27)
C. Sifat-sifat
jaiz bagi Allah
1.
Pengertian Sifat Ja’iz Bagi Allah
Kata “Jaiz”
menurut bahasa berarti “boleh”. Yang
dimaksud dengan sifat jaiz bagi Allah ialah sifat yang boleh ada dan boleh pula
tidak ada pada Allah.
Sifat jaiz ini tidak menuntut pasti ada
atau pasti tidak ada. Allah bebas dengan kehendak_Nya sendiri tanpa ada yang
menghendaki. Allah boleh saja tidak menciptakan alam ini, jika dia tidak
menghendaki alam ini.
2.
Pembagian Sifat Ja’iz Bagi Allah
Berbeda dengan sifat Wajib dan sifat
Mustahil, sifat Jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu:
๏ปช๏ป๏บฎ๏บ๏ปญ ๏บ๏ปฆ๏ป๏ปฃ๏ปค๏ป๏ป
๏ป๏ป๏ป
Artinya:
“Memperbuat segala
sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuat_Nya.”
Yang dimaksud dengan sesuatu yang
mungkin terjadi adalah sesuatu yang boleh terjadi dan boleh juga tidak terjadi.
Allah bebas menciptakan dan berbuat sesuatu yang Dia kehendaki.
D. Fungsi Iman Kepada Allah SWT
Fungsi iman
dalam kehidupan manusia adalah sebagai pegangan hidup. Orang yang beriman tidak
mudah putus asa dan ia akan memiliki akhlak yang mulia karena berpegang kepada
petunjuk Allah SWT yang selalu menyuruh berbuat baik.
Fungsi iman kepada Allah SWT akan
melahirkan sikap dan kepribadian seperti berikut ini.
- Menyadari kelemahan dirinya dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga ia tidak mau bersikap dan berlaku sombong atau takabur serta menghina orang lain
- Menyadari bahwa segala yang dinikmatinya berasal dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sikap menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah SWT sesuai dengan petunjuk dan kehendak Nya
- Menyadari bahwa dirinya pasti akan mati dan dimintai pertanggungjawaban tentang segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
- Merasa bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Ia akan berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang yang melihatnya namun Allah Maha Melihat. Dalam salah satu riwayat pernah dikisahkan, pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab menjumpai seorang anak pengembala kambing. Lalu Khalifah meminta kepada gembala itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja harganya. Namun anak itu berkata: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu Khalifah Umar berkata lagi: “Bukankah majikanmu tidak ada disini?” Jawab anak gemabala tersebut,” Memang benar majikanku tidak disini dan ia tidak mengetahuinya, tetapi Allah Maha Mengetahui” mendengar jawaban anak itu, Umar tertegun karena merasa kagum atas kualitas keimanan anak itu, yakni Allah SWT Maha Melihat dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Sadar dan segera
bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa. Ia akan
segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan
mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya, sebagai mana diterangkan dalam Al
Qur’an:
Artinya : “Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS An
Nisa :135)
Fungsi iman
kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap akhlak mulia pada diri seseorang. Ia
akan selalu berkata benar, jujur, tidak sombong dan merasa dirinya lemah
dihadapan Allah SWT serta tidak berani melanggar larangannya karena ia
mempunyai iman yang kokoh. Oleh karena itu, iman memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang paling ampuh untuk membentengi diri
dari segala pengaruh dan bujukan yang menyesatkan. Iman juga sebagai pendorong
seseorang untuk melakukan segala amal shaleh.
E.
Hikmah dan Manfaat Beriman
Kepada Allah
Hikmah beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1. Hatinya tenang,tidak goyah,tidak
terobang –ambing oleh ajakn nafsu jahat atau orang –orang yang menyesatkan
sesuai firman Allah dalam qs Ar
Ra’du ayat 28
2. Orang yang beriman akan selalu
mendapat bimbingan dari Allah SWT.
3. Orang yang beriman akan memiliki
sikap dan jiwa sosial yang terpuji karena Allah telah memberikan rahmat dan
karunianya yang melimpah.
4. Orang yang berimaan akan selalu
melakukan amalan-amalan shaleh terhadap semua makhluk citaan Allah.
5. Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman kedalam surga sebagai
rahmatnya dan pahala atas ketaatan serta keatuhan selama hidup di dunia. QS al
maidah ayat 9.[1][11]
Adapun manfaat
beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1. Menguatkan tauhid(peng-Esa-an)kepada
Allah,sehingga seseorang yang telah beriman kepada Allah,tidak akan menggantungkan
dirinya kepada sesuatu selain Allah,baik dengan cara berharap ataupun takut
kepadanya,dan ia tidak akan menyembah selain Allah.
2. Seseorang akan mencintai Allah
secara sempurna dan akan mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang
baik(asma’ul husna)dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
3. Mewujudkan penghambaan diri kepada
Allah yaitu dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang
dilarang-Nya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Iman menurut bahasa,
kata iman berarti percaya.
Sedangkan menurut pengertian
istilahi,khususnya dalam perspektif islam,iman adalah memercayai dan mengikuti
segala apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,baik yang berkenaan dengan
akidah,ibadah maupun muamalah.pngertian iman disepakati bahwa iman yang benar
adalah harus diyakini dalam hati,diikrarkan melalui lisan dan dimanifestasikan
dalam tindakan yang berupa pelaksanaan ibadah dan amal saleh
Allah SWT memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan
memiliki 1 sifat jaiz, semua sifat ini
wajib kita imani sebagai muslim sejati.
Hikmah
beriman kepada Allah SWT sebagai berikut:
1. Hatinya tenang,tidak goyah,tidak
terobang –ambing oleh ajakn nafsu jahat atau orang –orang yang
menyesatkan.sesuai firman Allah dalam qs Ar Ra’du ayat 28
2. Orang yang beriman akan selalu
mendapat bimbingan dari Allah SWT.
3. Orang yang beriman akan memiliki
sikap dan jiwa sosial yang terpuji karena Allah telah memberikan rahmat dan
karunianya yang melimpah.
4. Orang yang berimaan akan selalu
melakukan amalan2 shaleh terhadap semua makhluk citaan Allah.
5. Allah akan memasukkan orang2 yang
beriman kedalam surga sebagai rahmatnya dan
pahala atas ketaatan serta keatuhan selama hidup di dunia.
1. Merealisasikan
pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala
sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak
takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya
2. Menyempurnakan
kecintaan terhadap Allah, serta
mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya
yang Maha tinggi
3.
Merealisasikan
ibadah kepada Allah dengan
mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang
dilarang-Nya
4. Dengan kita mempelajari
Iman Kepada Allah maka hendaknya
kita
meningkatkan keimanan
dan taqwa kita pada Allah SWT
sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai hamba.
DAFTAR PUSTAKA
Kitab
Aqidatul Awwam
Al-Asyqar Sulaeman Umar, Dr. Prof,
2004, Al-Asmaul Husna, Penerjemah
Syamsuddin TU dan Hasan Suraedi,
Penyu ting Syamsuddin Tu. Cet. 1. Qisthi Press, Jakarta.
Syamsyuri, 2006, Pendidikan Agama
Islam Untuk Kelas X, Jakarta: Erlangga.
Da’ud, Ma’mur, 1983, Terjemah Hadits
Sahih Muslim Jilid I-IV, Widya, Jakarta
Al-qur’an dan terjemahannya
Abd khadir, An Nurul Bahri Ilal Imanil Kamil , Serajaya Santra:Jakarta, 1985
munir,sudarsono,dasar-dasar agama
islam,rineka cipta,jakarta,1992
Latief rousdiy,agama dalam
kehidupan manusia,rimbow,jakarta,1986
Suryan A.Jamrah,Studi ilmu Kalam, Program Pasca Sarjana
UIN Suska Riau, Pekanbaru: 2007
Syaikh Muhammad bin shalih Al
Utsaimin,Sifat-sifat Allah dalam
pandangan Ibnu Taimiyah,Pustaka
Azzam,Jakarta,2005
Teungku Muhammad Hasby Ash
Shiddieqy,AL ISLAMI 1,Pustaka Rizki
Putra : Semarang , 1998
Thoyib sah saputra,Aqidah
akhlak,karya toha putra,semarang,1996